Dialogue between Misa’ Kada Dipotuo, Pantan Kada Dipomate and the Third Sila of Pancasila: Exploring the Values of Unity and Harmony and Their Relevance to Indonesian’s Pluralistic Nation
DOI:
https://doi.org/10.30640/dewantara.v5i1.5846Keywords:
Character Education, Communal Solidarity, Cultural Harmony, Local Wisdom, National UnityAbstract
This study examines the dialogue between the Torajan local wisdom misa’ kada dipotuo, pantan kada dipomate and the third principle of Pancasila, namely the Unity of Indonesia, in order to explore their shared values of solidarity, harmony, and national integration within the pluralistic context of Indonesia. While the principle of unity is often articulated normatively at the ideological level, its practical embodiment in everyday cultural life remains underexplored. Employing a qualitative design with a literature review approach, this study analyzes scholarly works, cultural practices, and socio-historical sources related to Torajan traditions and national values. The findings reveal that misa’ kada dipotuo, pantan kada dipomate functions as an ethical system that emphasizes kinship, mutual cooperation, collective responsibility, and communal solidarity, which are concretely manifested in rituals, communal labor, and deliberative forums. These lived practices provide a tangible foundation that grounds the abstract ideal of national unity. The dialogical integration of local wisdom and national ideology demonstrates that unity is most effective when rooted in cultural experience rather than solely in political discourse. This study contributes theoretically to interdisciplinary discussions on culture and nationalism and practically offers insights for character education and community development. Ultimately, strengthening Indonesia’s unity requires revitalizing local wisdom as a source of inclusive, participatory, and sustainable social harmony.
References
Abraham, A. (2026). The Mangakkai’ Ceremony in Aluk To Dolo: Analysis Based on Victor Turner’s Perspective and Its Relevance to Human Relation. International Journal of Education, Language, Literature, Arts, Culture, and Social Humanities, 4(1), 7–17.
Ada’, J. L. (2014). Aluk To Dolo Menantikan Tomanurun dan Eran Di Langi’ Sejati. Batu Silambi’ Publishing.
Amrawaty, A. A., Lestari, V. S., & Karurukan, T. (2018). Tingkat Motivasi Masyarakat Toraja Memotong Ternak Kerbau pada Upacara Adat “Rambu Solo.”
Anderson, B. (2020). Imagined communities: Reflections on the origin and spread of nationalism. Dalam The new social theory reader (hlm. 282–288). Routledge.
Armadani, N., Mauliddaniyah, N., Yasri, P., & Salmina, U. (2025). Membangun Integrasi Nasional Di Tengah Keberagaman. Journal of Education, 1(1), 102–107.
Asrori, M. A. R. (2016). Integrasi nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter dan budaya bangsa yang berbasis pada lingkungan sekolah. Jurnal Rontal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan, 2(1).
Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative Inquarity Research Design. SAGE Publication,Inc.
Farhaeni, M., & Martini, S. (2023a). Pentingnya pendidikan nilai-nilai budaya dalam mempertahankan warisan budaya lokal di Indonesia. Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, 3(2).
Farhaeni, M., & Martini, S. (2023b). Pentingnya pendidikan nilai-nilai budaya dalam mempertahankan warisan budaya lokal di Indonesia. Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, 3(2).
Febrianto, R. A., & Nugroho, D. (2023). Implementasi Sila Ketiga Pancasila Butir Ke 6 Mengembangkan Persatuan Indonesia Atas Dasar Bhineka Tunggal Ika Dalam Kehidupan Sehari-Hari Terkait Informasi Teknologi. ADIL Indonesia Journal, 4(1), 65–73.
Insmerda, L. (2015). Toraja Tanah Leluhur: Tondok Lepongan Bulan, Tana’ Matarik Allo. Hexatama Sejahtera.
Jagom, B., & Juhani, S. (2023). Korelasi peribahasa neka behas neho kena, neka koas neho kota pada masyarakat manggarai dengan sila ketiga pancasila. Equilibrium: Jurnal Pendidikan, 11(1).
Kaelan. (2002). Pendidikan Pancasila. Paradigma.
Kardiman, T. (2024). Sila Ketiga Pancasila Fondasi Dalam Menyukseskan Demokrasi Inklusif (Sebagai Upaya Menangkal Politik Identitas). Sovereignty, 3(1), 16–29.
Koentjaraningrat (Raden Mas). (2009). Pengantar ilmu antropologi. Rineka Cipta.
Lintang, F. L. F., & Najicha, F. U. (2022). Nilai-nilai sila persatuan Indonesia dalam keberagaman kebudayaan Indonesia. Jurnal Global Citizen: Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan Kewarganegaraan, 11(1), 79–85.
Lumbaa, Y., Mukraimin, S., Damayanti, N., & Martinihani, M. (2023). Kearifan budaya lokal dalam ritual rambu solo’di toraja. Innovative: Journal Of Social Science Research, 3(3), 4849–4863.
Manullang, M. (2019). Misi Dalam Masyarakat Majemuk. Jurnal Teologi Cultivation, 3(2), 49–63.
Markus, F. (2022). Kekerabatan Orang Toraja Kristen-Islam Berdasarkan Nilai Kultural Tongkonan dan Falsafah Misa’Kada Dipotuo, Pantan Kada Dipomate. ARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama, 4(2), 190–203.
Michael, A., Pongtiangin, L. N., & Arnoltus, C. (2022). Moderasi Beragama dalam Kearifan Lokal Toraja: Misa’Kada Dipotuo, Pantan Kada Dipomate. BULLET: Jurnal Multidisiplin Ilmu, 1(03), 507–514.
Padang, M. T., Dasfordate, A., & Tamon, M. L. (2025). Analisis Peran dan Makna Tarian Pa’Gellu dalam Upacara Rambu Tuka’di Toraja. Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi, 7(3), 69–78.
Padang, S. S., Sesa, D., & Manaruri, A. P. (2025). INKULTURASI IMAN KRISTEN DALAM BUDAYA TORAJA: STUDI TEOLOGIS TERHADAP MAKNA RAMBU SOLO’DAN RAMBU TUKA’DALAM KONTEKS IMAN DAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN. HUMANITIS: Jurnal Homaniora, Sosial dan Bisnis, 3(3), 479–487.
Paganggi, R. R., Hamka, H., & Asmirah, A. (2021). Pergeseran Makna Dalam Pelaksanaan Upacara Adat Rambu Solo’Pada Masyarakat Toraja: Studi Sosiologi Budaya di Lembang Langda Kecamatan Sopai Kabupaten Toraja Utara. Jurnal Sosiologi Kontemporer, 1(1), 09–20.
Panggarra, R. (2014). Konflik kebudayaan menurut teori Lewis Alfred Coser dan relevansinya dalam upacara pemakaman (Rambu Solo’) di Tana Toraja. Jurnal Jaffray, 12(2), 291–316.
Patandean, W. T., Silaban, T. O. H., & Tinggi, R. (2024). Teologi yang Berdialog dalam Perjumpaan Budaya: Refleksi Teologis mengenai Koinonia dalam Tradisi Ma’Kombongan (Gotong-Royong) di Toraja dan Implementasinya. Danum Pambelum: Jurnal Teologi Dan Musik Gereja, 4(2), 1–10.
Putra, S., Tuerah, P., Mesra, R., Sukwika, T., & Sarman, F. (2024). Metode Penelitian Kualitatif (Teori dan Panduan Praktis Analisis data Kualitatif).
Rantesalu, S. B., & Herman, J. (2023). Pembelajaran berbasis semiotika bagi kecerdasan spiritual anak dalam konteks keluarga Kristen Toraja. KURIOS, 9(2), 419–431.
Septian, D. (2020). Pemahaman Nilai-Nilai Pancasila Dalam Memperkuat Kerukunan Umat. TANJAK: Journal of Education and Teaching, 1(2), 155–168.
Suparlan, P. (2000). Masyarakat Majemuk dan Perawatannya. Antropologi Indonesia, 63, 1–14.
Tahara, T., & Malim, D. D. L. O. (2021). The cultural values of the Sara Patanguna in strengthening harmonization among Ethnics in Baubau. ETNOSIA: Jurnal Etnografi Indonesia, 6(1), 82–96.
Tangdilintin, L. T. (1981). Toraja dan Kebudayaannya. Yayasan Lepongan Bulan.
Titaley, J. (2022). Perubahan Makna Kebangsaan Indonesia Setelah Menjadi Persatuan Indonesia Dalam Pancasila dan Dampaknya bagi Kehidupan Berbangsa Indonesia. Studia Philosophica et Theologica, 22(2), 230–245.
Ukhra, S. N., & Zulihafnani, Z. (2021). Konsep Persatuan dalam Al-Qur’an dan Relevansinya dengan Pancasila Sila Ketiga. TAFSE: Journal of Qur’anic Studies, 6(1), 111.
Zahra, S. F. A., & Najicha, F. U. (2022). Pentingnya Menerapkan Nilai-Nilai Pancasila di Tengah Kemajemukan. Jurnal Rontal Keilmuan Pancasila dan Kewarganegaraan, 8(2), 62–64.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Dewantara : Jurnal Pendidikan Sosial Humaniora

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.





